ayoo lagi baca artikel apa? jangan lupa komentnya yaa ditunggu loh hehe :D

Senin, 13 Mei 2013

Kepribadian Sehat Menurut Carl Rogers


Kepribadian Sehat Menurut Rogers






Hal yang  pertama dikemukakan tentang versi Roger mengenai kepribadian yang sehat, yakni kepribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses, “suatu arah bukan suatu tujuan”. Aktualisasi diri berlangsung terus tidak pernah merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Tujuan ini, yakni orientasi ke masa depan ini, menarik individu ke depan, yang selanjutmya mendiferensiasikan dan mengembangkan segala segi dari diri. Rogers menyebut salah satu diantara buku-bukunya on Becoming a Person; buku ini merangkum dengan tepat sifat dari proses yang berlangsung terus itu.

Hal yang kedua tentang aktualisasi diri ialah aktualisasi diri itu merupakan suatu proses yang sukar dan kadang-kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan suatu ujian, rintangan, dan pecutan terus menerus terhadap semua kemampuan seseorang. Rogers menulis, “aktualisasi diri merupakan keberanian untuk ada”. “Hal ini berarti meluncurkan diri sendiri sepenuhnya ke dalam arus kehidupan”. Orang itu terbenam dalam dan terbuka kepada seluruh ruang lingkup emosi dan pengalaman manusia dan merasakan hal-hal ini jauh lebih dalam dari pada seorang yang kurang sehat. Rogers tidak menggambarkan bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu terus menerus atau juga hampir setiap saat bahagia atau puas, meskipun mereka benar-benar mengalami perasaan-perasaan ini. Seperti Allport, Roger juga melihat kebahagiaan sebagai hasil sampingan diri perjuangan aktualisasi diri; kebahagiaan bukan suatu tujuan dalam dirinya sendiri. Orang-orang mengaktualisasikan diri menjalani 8 kehidupan yang kaya, menantang, dan berarti, tetapi mereka tidak perlu tertawa terus-menerus.

Hal yang ketiga tentang orang-orang yang mengaktualisasikan diri, yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi di belakang topeng-topeng atau kedok-kedok, yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan mereka atau menyembunyikan sebagian diri mereka. Mereka tidak mengikuti petunjuk-petunjuk tingkah laku atau memperlihatkan kepribadian-kepribadian yang berbeda untuk situasi-situasi yang berbeda. mereka bebas dari harapan-harapan dan rintangan-rintangan yang diletekkan oleh masyarakat mereka atau orang tua mereka; mereka telah mengetasi aturan-aturan ini. Rogers tidak percaya bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri hidup di bawah hukum-hukum yang diletakkan orang-orang lain. Arah yang dipilih, tingkah laku yang diperlihatkan semata-mata ditentukan oleh individu-individu mereka sendiri. Diri adalah tuan dari kepribadian dan beroperasi terlepas dari norma-norma yang ditentukan orang-orang lain. Akan tetepi orang-orang yang mengektualisasikan diri tidak agresif, memberontak secara terus terang atau dengan sengaja tidak konvensional dalam menceomoohkan aturan-aturan dari orang tua atau masyarakat. Mereka mengetahui bahwa mereka dapat berfungsi sebagai individu-individu dalam sanksi-sanksi dan garis-garis pedoman yang jelas dari masyarakat.

Menurut roger manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh masa kanak-kanak, tetapi menurutnya masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat jauh lebih penting daripada maa lampau. Tetapi beliau mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi kita memandang masa sekarang yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis.


Pengembangan diri

Anak-anak mulai membentuk suatu lukisan atau gambaran tentang siapa dirinya apabila ia telah mengembangkan kemampuan untuk membedakan apa yang menjadi miliknya dan semua benda yang dilihat, didengar, dan diraba. Pada saat ini abak telah mengembangkan pengertian diri (self-concept). Self-concept juga akan membentuk anak untuk menggabarkan ingin menjadi siapa. Gambaran-gambaran tersebut muncul akibat bertambah kompleksnya interaksi-interaki dengan orang lain.
Menurut roger, berkembang atau tidaknya diri itu tergantung pada cinta yang diterima anak pada masa kecil. Pada waktu berkembang anak belajar membutuhkan cinta. Roger menyebut kebutuhan ini sebagai penghargaan positif (“positive regard”). Positive regard merupakan suatu kebutuhan yang memaksa, dan dimiliki oleh setiap manusia. Dan setiap anak selalu terdorong untuk mencari positive regard. Anak yang menemukan kepuasan yang cukup kalau dia menerima kasih sayang, cinta dan persetujuan dari orang-orang lain. Dan akan merasa kecewa jika dia tidak menerima kasih sayang dan cinta. Pertumbuhan anak menjadi kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh mana kebutuhan positive regard dipenuhi dengan baik.

Kebutuhan penghargaan positif (positive regard), terbagi menjadi dua, yaitu :

1. Penghargaan positif bersyarat (conditional positive regard), kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Karena anak mengembangkan conditional positive regard maka dia menginternalisasikan sikap-sikap ibu. Jika itu terjadi, maka sikap ibu diambil alih oleh anak tersebut dan diterapkan kepada dirinya.

2. Pengahargaan positif tidak bersyarat (unconditional positive regard), syarat utama bagi timbulnya kepribadian sehat pada masa kecil. Hal ini berkembang bila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Cinta dan kasih sayang yang diberikan dan sikap yang ditampilkannya bagi anak menjadi suatu kumpulan norma dan standar yang diinternalisasikan. Sikap ibu yang memperlihatkan conditional positive regard diinternalisasikan oleh anaknya.

Unconditional positive regard tidak menghendaki bahwa semua pengekangan terhadap tingkah laku anak tidak ada, tidak berarti bahwa diperbolehkan melakukan apa saja yang diinginkan tanpa dinasihati. Anak-anak yang bertumbuh dengan perasaan unconditional positive regard tidak akan mengembangkan syarat-syarat penghargaan. Mereka merasa diri berharga dalam semua syarat. Dan jika syarat-syarat penghargaan tidak ada, maka tidak kebutuhan untuk bertingkah laku defensif.
           

Pokok-Pokok Teori Rogers

Konsepsi-konsepsi pokok dalam teori Rogers adalah

(1)   Organism, yaitu keseluruhan individu
(2)   Medan phenomenal, yaitu keseluruhan pengalaman
(3)  Self, yaitu bagian medan phenomenal yang terdiferensiasi dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar daripada “I” atau “me”.

A.    Ciri-ciri orang yang berfungsi sepenuhnya

Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya, yaitu :

1.      Keterbukaan pada Pengalaman

Seseorang yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tak satu pun yang harus dilawan karena tak satu pun yang mengancam. Itu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru.

2.      Kehidupan Eksistensial

Orang yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan. Setiap pengalaman dirasa segar dan baru, seperti sebelumnya belum pernah ada dalam cara yang persis sama. Karna orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka diri atau kepribadian terus menerus dipengaharui atau disegarkan oleh setiap pengalaman.

3.      Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri

Orang yang sehat terbuka sepenuhnya pada pengalaman, maka dia memiliki jalan masuk untuk seluruh informasi yang ada dalam suatu situasi membuat keputusan. Orang-orang yang aktualisasi diri adalah orang-orang yang percaya diri, percaya akan kemampuan dan potensi yang ada dalam dirinya. Ia akan bertindak sesuai dengan apa yang ia percayai sebagai sesuatu yang benar.

4.      Perasaan Bebas

Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternative pikiran dan tindakan. Tambahan lagi, orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan atau peristiwa-peristiwa masa lampau.

5.      Kreativitas

Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Mengingat sifat-sifat lain yang mereka miliki, sukar untuk melihat bagaimana seandainya kalau mereka tidak demikian. Orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan serta tindakan mereka ialah orang-orang sebagaimana dikemukakan Rogers yang akan mengungkapkan diri mereka dalam produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan mereka. Tambahan lagi, mereka bertingkah laku spontan, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respon atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam disekitar mereka.

B.     Perkembangan Kepribadian “Self”

Self adalah apa yang manusia rasakan didalam dirinya. Didalam self terdapat 2 bagian yaitu, ideal self dan reality self. Ideal self adalah diri yang diharapkan individu, sedangkan reality self adalah kenyataan yang ada pada diri individual keadaan apa adanya pada diri individu. Kesulitan akan timbul bila tidak terjadi ketidaksesuaian antara persepsi tentang diri dengan ideal selfnya (kesenjangan antara harapan dan realita). Individual yang sehat adalah individu yang jarak reality self dan ideal self tidak terlalu jauh.

Self merupakan satu-satunya kepribadian yang sebenarnya. Dengan kata lain self terbentuk melalui geferensiasi medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu serta dari distorsi pengalaman. Self bersifat integral dan konsisten. Pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self dianggap ancaman dan self dapat berubah sebagai akibat kematangan biologik dan belajar. Konsep self menggambarkan konsepsi mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi bagian dari dirinya. Misalnya, orang mungkin memandang dirinya sebagai : “saya cerdas, menyenangkan, jujur, baik hati, dan menarik.”

Sumber:

Suryabrata, S. 2005. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius


Minggu, 14 April 2013

Konsep Manusia Berdasarkan Teori Psikoanalisa, Behavioristik dan Humanistik


Nama: Hadi Rachmatullah
Kelas: 2Pa08
Jurusan: Psikologi




A. Kepribadian Sehat Menurut Teori Psikoanalisa





Sigmund Freud adalah Bapak psikoanalisis yang dilahirkan di Moravia pada
tanggal  6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939.
Selama hampir 80 tahun Freud tinggal di Wina dan baru meninggalkan kota
ketika Nazi menaklukkan Austria. Sebagai anak muda Freud bercita-cita ingin
menjadi ahli ilmu pengetahuan dan dengan keinginan itu pada Tahun 1873
masuk fakultas kedokteran Universitas Wina, dan tamat pada tahun 1881.

Konsep manusia menurut Sigmund Freud:
· Das Es (the id), yaitu aspek biologis
· Das Ich (the ego), yaitu aspek psikologis
· Das Ueber Ich (the super ego), yaitu aspek sosiologis

Kendatipun ketiga aspek itu masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen,
prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri, namun ketiganya berhubungan dengan
rapatnya sehingga sukar (tidak mungkin) untuk memisahkan pengaruhnya
terhadap tingkah laku manusia; tingkah laku selalu merupakan hasil sama dari
ketiga aspek itu.

1. Das Es

Das Es atau dalam bahasa Inggris the id disebut juga oleh Freud System der
Unbewussten. Aspek ini adalah aspek biologis dan merupakan sistem yang
original di dalam kepribadian; dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh.
Freud menyebutnya juga realitas psikis yang sebenar-benarnya (The true
psychic reality), oleh karena Das Es itu merupakan dunia batin atau subyek
manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif.
Das Es berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur biologis), termasuk
insting; dan Es merupakan “reservoir” energi psikis yang menggerakan Das Ich
dan Das Ueber Ich.

2. Das Ich

Das Ich atau dalam bahasa Inggris the ego disebut juga System der
Bewusten-Vorbewussten. Aspek ini adalah aspek psikologis daripada
kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan
secara baik dengan dunia kenyataan (Realitat). Disini letak perbedaan yang
pokok antara Das Es dan Das Ich, yaitu kalau Das Es itu hanya mengenal
dunia subyektif (dunia batin), maka Das Ich dapat membedakan sesuatu yang
hanya ada di dalam batin dan sesuatu yang di dunia luar (dunia
obyektif, dunia realitas).

Di dalam berfungsinya Das Ich berpegang pada “Prinsip kenyataan” atau
“Prinsip realitas” (Realitatspinzip, the reality principle) dan bereaksi dengan
proses sekunder (Sekundar Vorgang, secondary process). Tujuan
Realitatspinzip itu ialah mencari obyek yang tepat (serasi) untuk
mereduksikan tegangan yang timbul dalam organisme.

3. Das Ueber Ich

Das Ueber Ich adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai
nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua
kepada anak-anaknya, yang dimasukkan (diajarkan) dengan berbagai perintah
dan larangan. Jadi, Das Ueber Ich terdapat dua hal, ialah “conscientia” dan
“ich-ideal”. Conscientia menghukum orang dengan memberikan rasa dosa,
sedangkan ich-ideal menghadiahi orang dengan rasa bangga akan dirinya.

B.  Kepribadian Sehat Menurut Teori Behavioristik





          Aliran ini sering dikatkan sebagai aliran ilmu jiwa namun tidak peduli pada jiwa. Pada akhir abad ke-19, Ivan Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940 – 1950-an. Di sini psikologi didefinisikan sebagai sains dan sementara sains hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat dan diamati saja. Sedangkan ‘jiwa’ tidak bisa diamati, maka tidak digolongkan ke dalam psikologi. Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang. Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing. Di depan anjing eksperimennya yang lapar, Pavlov menyalakan lampu. Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing tersebut terbit air liurnya. Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging disajikan. Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.

       Percobaan yang hampir sama dilakukan terhadap seorang anak berumur 11 bulan dengan seekor tikus putih. Setiap kali si anak akan memegang tikus putih maka dipukullah sebatang besi dengan sangat keras sehingga membuat si anak kaget. Begitu percobaan ini diulang terus menerus sehingga pada taraf tertentu maka si anak akan menangis begitu hanya melihat tikus putih tersebut. Bahkan setelah itu dia menjadi takut dengan segala sesuatu yang berbulu: kelinci, anjing, baju berbulu dan topeng Sinterklas. Ini yang dinamakan pelaziman dan untuk mengobatinya kita bisa melakukan apa yang disebut sebagai kontrapelaziman (counterconditioning).

C. Kepribadian Sehat Menurut Teori Humanistik


     Dalam pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri. Akan tetapi ada lebih banyak hal yang terkandung dalam teorinya tentang dorongan manusia. Kita didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan yang dibawa sejak lahir, yang tersusun dalam satu tingkat, dari yang paling kuat sampai kepada yang paling lemah. Jadi, prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri ialah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah: (1) kebutuhan-kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman, (3) kebutuhan-kebutuhan akan rasa cinta, (4) kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan. (5) Kebutuhan-kebutuhan ini harus sekurang-kurangnya sebagian dipuaskan dalam urutan ini, sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan-kebutuhan yang jelas terhadap makanan, air, udara, tidur, dan seks. Kebutuhan akan rasa aman meliputi kebutuhan akan jaminan, stabilitas, perlindungan, ketertiban,  bebas dari ketakutan, dan kecemasan. Kebutuhan akan rasa cinta dapat menggabungkan diri dengan suatu kelompok atau kumpulan, menerima nilai-nilai dan sifat-sifat atau memakai pakaian seragammya dengan maksud supaya merasakan perasaan memiliki. Kebutuhan akan penghargaan di bagi menjadi dua, penghargaan yang berasal dari orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri. Aktualisasi diri dapat didefinisikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat kita, pemenuhan semua kualitas dan kapasitas kita.

Sumber:
Suryabrata, S. 2005. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius
Psychologymania.2011. Mazhab dan Aliran dalam Psikologi. http://www.psychologymania.com/2011/09/mazhab-dan-aliran-dalam-psikologi.html dikases (secara online) pada 14 Maret 2013.

Sabtu, 09 Maret 2013

Definisi Sehat






Sering kali kita mendengar kata sehat dalam kehidupan sehari-hari, biasanya kita mengakatan kata sehat untuk menanyakan kepada orang lain tentang keadaan jasmaniah orang tersebut. Tapi apa sebenernya arti dari sehat itu? Sehat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah baik seluruh badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit).


1. Definisi sehat menurut WHO

Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO,1947). Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle,1994):

a. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.

b. Memandang sehat dengan mengidentifikasikan lingkungan internal dan eksternal.

c. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.


2. Definisi sehat menurut para ahli:


a. Neuman

Sehat adalah suatu keseimbangan biopsiko - sosio - cultural dan spiritual pada tiga garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten.


b. Pender (1982)

Sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (Aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural.


c. Paune (1983)

Sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakan untuk perawatan diri ( self care actions) secara adekual. Self care Resoureces : mencangkup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care actions adalah perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahan kan dan menigkatkan fungsi psicososial dan spiritual.


3. Definisi Sehat Menurut Undang-Undang No.23 tahun 1992

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.


4. Definisi sehat secara umum

Sehat merupakan sebuah keadaan yang sempurna dari seorang manusia, dimana tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial, mental dan spiritual yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Kesehatan bersifat menyeluruh mengandung keempat aspek. Perwujudan dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain sebagai berikut:

A. Kesehatan fisik: terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.

B. Kesehatan mental (jiwa): mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.
• Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
• Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
• Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang.
Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.

C. Kesehatan sosial: terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial,ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.

D. Kesehatan dari aspek ekonomi: terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.

Sumber:

http://coryditapratiwi.blogspot.com/2011/02/definisi-sehat.html


http://dian2blog.blogspot.com/2012/10/hubungan-kesehatan-jasmani-dan-rohani.html


http://icecreamcocholate.blogspot.com/2012/11/definisi-sehat-dan-sakit.html


http://www.scribd.com/doc/36716628/DEFINISI-SEHAT


Semium, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Kanisius